ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته .... Selamat Datang di Situs Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal wat-Tamwil SAKA MADANI .... Apabila Anda hendak menyalurkan ZIS dan atau mengamanahkan investasi dana Anda secara Syariah di Lembaga kami, mohon isi Formulir di bagian bawah BLOG ini ..... Terima Kasih .... وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات

Sunday, January 27, 2013

Diluaskan dan Disempitkan Rizki


السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِي م




Terkadang seseorang yang diberikan kemudahan untuk mendapatkan rizki oleh Allah Ta'ala, dirinya mengira bahwa Allah telah memuliakannya.

Sebaliknya bila seseorang oleh Allah Ta'ala diberikan kesulitan mendapatkan rizki, dia mengira Allah telah menghinakannya.

Padahal itu adalah cara berpikir yang sangat salah.

Simak pembahasannya di:

#Diluaskan dan Disempitkan Rizki#

Segala puji MILIK Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Risalah berikut akan sedikit berbicara tentang masalah rizki. Nasehat ini pun tidak perlu jauh-jauh ditujukan pada orang lain. Sebenarnya yang lebih pantas adalah nasehat ini ditujukan pada diri kami sendiri supaya selalu bisa ridho dengan takdir ilahi dalam hal rizki.

Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ


QS. 89 : 15. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan di beri-Nya kesenangan, maka dia akan berkata : " Tuhanku telah memuliakanku."

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ 


QS. 89 : 16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".

--

*Penjelasan Para Ulama

Ath Thobari rahimahullah menjelaskan,

“Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.”[1]

Kemudian Ath Thobari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rizki, yaitu rizkinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rizki berupa nikmat sehat pada jasadnya.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki.

Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya.

Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian !!!

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

نﻮُﺒَﺴْﺤَﻳَأ َ ﺎَﻤَّﻧَأ ﻢُﻫُّﺪِﻤُﻧ ْ ﻪِﺑ ِ ﻦِﻣ ْ لﺎَﻣ ٍ ﻦﻴِﻨَﺑَو َ عِرﺎَﺴُﻧ ُ ﻢُﻬَﻟ ْ ﻲِﻓ تاَﺮْﻴَﺨْﻟا ِ ﻞَﺑ ﻻ َنوُﺮُﻌْﺸَﻳ

" Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)

Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rizki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya.

Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rizki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai.

Begitu pula Allah menyempitkan rizki pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.

Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rizki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut.

Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”[3]

--

*Antara Mukmin dan Kafir

Sifat yang disebutkan dalam surat ini (Al Fajr ayat 15-16) adalah sifat orang kafir. Maka sudah patut untuk dijauhi oleh seorang muslim.

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

“Sifat yang disebutkan dalam (Al Fajr ayat 15-16) adalah sifat orang kafir yang tidak beriman pada hari berbangkit.

Sesungguhnya kemuliaan yang dianggap orang kafir adalah dilihat pada banyak atau sedikitnya harta.

Sedangkan orang mukmin, kemuliaan menurutnya adalah dilihat pada ketaatan pada Allah dan bagaimana ia menggunakan segala nikmat untuk tujuan akhirat.

Jika Allah memberi rizki baginya di dunia, ia pun memuji Allah dan bersyukur pada-Nya.”[4]

*Syukuri dan Bersabar

Pahamilah! Tidak perlu merasa iri hati dengan rizki orang lain.

Kita dilapangkan rizki, itu adalah ujian.

Kita disempitkan rizki, itu pula ujian.

Dilapangkan rizki agar kita diuji apakah termasuk orang yang bersyukur atau tidak.

Disempitkan rizki agar kita diuji termasuk orang yang bersabar ataukah tidak.

Maka tergantung kita dalam menyikapi rizki yang Allah berikan. Tidak perlu bersedih jika memang kita tidak ditakdirkan mendapatkan rizki sebagaimana saudara kita.

Allah tentu saja mengetahui manakah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Cobalah pula kita perhatikan bahwa rizki dan nikmat bukanlah pada harta saja. Kesehatan badan, nikmat waktu senggang, bahkan yang terbesar dari itu yaitu nikmat hidayah Islam dan Iman, itu pun termasuk nikmat yang patut disyukuri. Semoga bisa jadi renungan berharga.

Ya Allah, karuniakanlah pada kami sebagai orang yang pandai besyukur dan bersabar pada-Mu dalam segala keadaan, susah maupun senang.

Sungguh nikmat diberikan taufik untuk merenungkan Al Qur’an. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.



Disusun di Sakan 27, kamar 202, KSU, Riyadh, Saudi Arabia saat ba’da Maghrib
Penulis: ust. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com

Footnote:

[1] Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H, 24/412
[2] Idem.
[3] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 14/347
[4] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, Al Qurthubi, Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin Al Hasan At Turki, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1427 H, 22/.

--

Semoga bermanfaat

والسـلام عليكم ورحمة الله وبركات





Divisi LITBANG BMT Saka Madani

Saturday, January 26, 2013

Muslim Indonesia Dikepung Bahan Pangan Haram

السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِي م


AWAS......Muslim Indonesia Dikepung Produk Haram !!



Banyak Muslim Indonesia belum menyadari bahwa sehari-hari kita dikelilingi oleh bahan pangan haram maupun subhat. Bahkan mungkin tanpa disadari, tubuh kita dan keluarga kita telah terkontaminasi oleh bahan pangan haram. Padahal cukup jelas peringatan dari Rasulullah SAW :
“Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya” (HR Tirmidzi).
Ketidaktahuan dan ketidak pedulian dari konsumen Muslim saat ini makin menumbuh suburkan maraknya produksi dan perdagangan pangan haram. Pada artikel ini PusatHalal.com ingin sedikit berbagi tentang realita di sekitar kita yang perlu diketahui, diwaspadai dan di siasati agar kita tidak terjebak untuk menggunakan atau mengkonsumsi bahan pangan haram dan subhat. Setidaknya ada empat aspek yang perlu kita ketahui yang berperan besar dalam menghasilkan dan menyuburkan peredaran produk-produk haram dan subhat di sekitar kita yaitu :

1. Dampak Perkembangan Teknologi Pangan

Perkembangan teknologi pangan, selain berdampak positif bagi manusia, disisi lain perlu dicermati pula dampak negatifnya. Salah satu dampaknya adalah makin kompleksnya proses pengolahan dan distribusi bahan pangan, sehingga berpotensi terjadinya penggunaan atau pencampuran bahan haram. Hal ini mempersulit penentuan halal dan haramnya suatu produk pangan oleh kalangan awam karena perlu pengetahuan yang memadai untuk mengetahui apakah produk yang diproduksi halal atau tidak. Cara paling aman, masyarakat Muslim cukup mempercayakan kepada lembaga terkait yang berkompetensi untuk melakhukannya. Namun mengingat produk-produk yang bersertifikat halal resmi masih relatif sedikit, karena terdesak kebutuhan dan ketidaktahuan seringkali masyarakat dengan mudah menganggap “halal” suatu produk yang belum bersertifikat halal hanya berdasarkan “asumsi” semata.

Satu contoh yang mudah saja, ketika memilih air mineral dalam kemasan, masyarakat dengan mudah “ber-asumsi” bahwa produk ini halal karena hanya air saja. Padahal kalau dicermati proses penyaringan air mineral, banyak pabrik menggunakan arang sebagai penyaring. Sedangkan arang ini banyak yang berasal dari tulang hewan yang di bakar. Jika arang ini diimpor dari Negara non-muslim, sangat besar kemungkinan berasal dari tulang babi (karena paling banyak dikonsumsi dan harganya jauh lebih murah). Dr Anton Apriyantono dalam beberapa tulisannya mengungkapkan kaidah fikih: jika bahan yang haram (walau sedikit) bercampur dengan yang halal, maka status dari bahan tersebut adalah haram. Jadi jangan heran atau dianggap berlebihan ketika membeli air mineral-pun kita perlu melihat logo halalnya. Walaupun yang tidak berlogo halal belum tentu juga haram, namun karena kemajuan teknologi ini, menurut hemat kami statusnya menjadi subhat, kecuali kita mengetahui persis proses produksinya.

Artikel ini tidak akan membahas secara detail berkaitan teknologi pangan ini, namun hanya gambaran umumnya saja agar kita waspada dan “lebih memilih produk yang sudah berlabel halal resmi” dibanding yang tidak ada labelnya. Jangan sampai kita terjebak mengkonsumsi produk-produk haram gara-gara “asumsi” yang “asal” seperti diatas.

Dalam konteks makanan, Dr Anton Apriayantono mendefinisikan makanan halal sebagai berikut:

  • Tidak mengandung babi dan bahan yang berasal dari babi.


  • Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti : bahan-bahan yang berasal dari organ manusia, darah, kotoran-kotoran dan lain sebagainya.


  • Semua bahan yang berasal dari hewan halal yang disembelih menurut tata cara syari'at Islam.


  • Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, pengolahan, tempat pengelolaan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi. Jika pernah digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dulu harus dibersihkan dengan tata cara syari'at Islam.


  • Semua makanan dan minuman yang tidak mengandung khamar.

  • Dewasa ini konteks halal telah meluas tidak hanya untuk makanan dan minuman saja, namun juga obat-obatan, vitamin, supllemen, vaksin dan kosmetika. Karena tak jarang produk-produk tersebut menggunakan bahan haram dan najis

    Dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh MUI yang diikuti team PusatHalal beberapa waktu lalu, saat membahas tentang teknologi pangan, kami ditunjukan dua buah peta berkaitan penggunaan dan distribusi bahan haram. Dua peta ini membuka mata kami tentang begitu kompleksnya penggunaan dan peredaran bahan haram dalam teknologi pangan. (lihat gambar 1 dan gambar 2 dibawah ini)

    Gambar 1 adalah peta secara umum bahan-bahan haram yang sering digunakan dalam produksi produk pangan, obat dan kosmetika. Gambar 2 menggambarkan lebih detail salah satu bahan haram yang sering dipakai yaitu “babi”. Perhatikan bahwa hampir semua anggota tubuh babi digunakan dalam teknologi dan pembuatan produk pangan, kosmetik dan obat- obatan.

    Kalau kita perhatikan dengan seksama peta-peta dibawah, bisa diambil kesimpulan bahwa banyak produk yang mungkin sekilas tidak mengandung bahan haram ternyata berpotensi mengandung bahan haram. Kemungkinan makin besar jika produknya atau bahan-bahanya di datangkan dari negeri non-muslim. Khusus babi, penggunaannya begitu luas mengingat kemudahan berkembang biak, pemeliharaan yang mudah dan harganya yang murah. Dijelaskan disini babi sekali beranak bisa mencapai 14 ekor (bandingkan dengan sapi dan kambing yang hanya 1-2 ekor). Makanannya pun mudah, karena babi memakan apa saja, termasuk (maaf) kotorannya sendiri.

    Belum lagi kalau kita telisik tentang proses dan peralatan yang digunakan dalam produksi dan distribusi. Walau komposisi produk semuanya halal, namun jika peralatan yang dipakai dalam produksi dan distribusi digunakan juga untuk produk yang mengandung bahan haram, maka potensi pencampuran atau kontaminasi dari peralatan akan tetap ada.



    Gambar 1 : Peta Bahan Pangan Haram (sumber LP-POM MUI)



    Gambar 2 : Peta Babi (Sumber : LP-POM MUI)

    Menurut Ust Nanung Danar Dono, dosen dan peneliti dari UGM penggunaan bagian-bagian tubuh babi sudah begitu meluas di dunia industri, diantaranya: 

    LEMAK

  • Lemak & gliserin : softdrink, bahan kosmetik (facial, hand & body lotion), sabun,bahan roti, eskrim, dll.


  • Emulsifier : Lesitin, E471-E476, dll (tapi ingat tidak semua kode E merujuk ke Babi).


  • Lard (lemak babi) : coklat, pengempuk / pelezat rerotian, masakan, dll.


  • Minyak : penyedap masakan.


  • Bahan starter Vetsin (kasus Ajinomoto).


  • DAGING

  • Sumber protein hewani yang murah: ham, pork, sausage (sosis), dendeng.


  • Daging babi empuk, serat halus, dan rasanya lezat.


  • Dapat dipakai sebagai campuran bakso, siomay, bakmi goreng, dll.


  • TULANG

  • Industri pariwisata : patung, dll.


  • Industri makanan/minuman : arang tulang sebagai filter penyaring air mineral


  • Industri obat : gelatin sebagai bahan soft capsule dan soft candy (permen), penghilang keruh fruit juice.


  • Industri pertukangan : bahan lem, dll.


  • BULU

  • Bahan kuas (BRISTLE): kuas roti, kuas cat tembok, kuas lukis.


  • Laporan Badan Pusat Statistik (2002) : Periode Januari – Juni 2001, Indonesia mengimpor boar bristle & pig/boar hair se-jumlah 282,983 ton (senilai 1.713.309 US $).


  • ORGAN DALSM

  • Transplantasi : ginjal, hati, jantung.


  • Plasenta : kosmetika (facial, hand & body lotion), sabun, dll.


  • Usus : sosis, benang jahit luka, dll.


  • Enzim pencernaan : amilase, lipase, tripsin, pankreatin, pepsin, dll.


  • KOTORAN

  • Pupuk tanaman apel di Jepang.


  • Pupuk sayuran (Baturaden, Temanggung, Wonosobo, dll.)


  • Darah babi untuk Black Pudding.


  • KULIT

  • Industri kulit (leather handicrafts): tas, sepatu, dompet, dll. 


  • Jika sudah seperti ini, sekali lagi cara yang paling aman adalah memilih hanya produk yang sudah ada lebel halal resmi. Karena untuk mendapatkan label ini dilakukan audit yang sistematis dan menyeluruh mulai dari bahan baku/ingredient, proses produksi, peralatan produksi, kemasan, bahkan sampai ke komitmen dari manajemennya.

    2. Dampak Derasnya Barang Impor dari Negeri Non Muslim.

    Walaupun import bahan makanan dari luar negeri telah diatur sedemikian rupa, namun masih banyak impor yang dilakukan secara illegal. Sebutlah kasus masuknya paha ayam dari Amerika beberapa tahun silam atau masuknya hati sapi illegal yang lebih murah daripada lokal. Keduanya kemungkinan besar berstatus haram karena tidak disembelih secara Islami. 

    Belum lagi penggunaan produk impor yang tidak sesuai peruntukannya. Contohnya saja ada indikasi kulit babi yang diimpor untuk produk sandang, oleh oknum tertentu sisa-sisa potongannya dimanfaatkan juga untuk dijadikan krupuk kulit yang sekilas mirip dengan krupuk kulit dari sapi.

    Untuk produk-produk dalam kemasan, masyarakat yang tidak hati-hati dan awam sering terkecoh membeli produk hasil impor yang belum jelas kehalanannya. Contoh saja coklat, keju, susu, biscuit dan sebagainya. Sepertinya “asumsi” yang salah seperti dibahas di atas ditambah tidak jelasnya keterangan ingredient yang dicantumkan dalam kemasan, (karena menggunakan bahasa dan istilah asing) memungkinkan terkonsumsinya produk haram ini oleh orang Muslim.

    Selain produk pangan, perlu juga diwaspadai produk lainnya seperti kosmetik, obat-obatan, sabun mandi, pembersih wajah, bahkan bahan jaket, dompet, sandal, kuas bulu dan lainya yang kemungkinan berasal dari bahan haram.

    Jangan sampai niat kita memebersihkan atau mensucikan tubuh malah menghasilkan hal sebaliknya. Contohnya saja mandi menggunakan sabun yang mengandung lemak babi, keramas dengan menggunakan shampoo yang mengandung tulang babi (untuk menimbuklan efek kilau seperti mutiara), atau mencuci muka dengan menggunakan pembersih muka yang mengandung karbon aktif yang berasal dari arang tulang babi.

    Jangan pula sampai ibadah kita yang hanya bisa sah dilakukan setelah kita membersihkan diri dari najis justru di cemari najis. Ini bisa saja terjadi jika sehabis wudhu kita menggunakan sandal dari kulit babi, atau saat sholat di kantong kita ada dompet dari kulit babi. Walau ditinjau dari sudut pandang fikih masih ada perbedaan pendapat tentang haram dan tidaaknya penggunaan kulit babi ini, namun selayaknyalah kita berhati-hati dari kemungkinan tidak diterimanya ibadah kita.

    3. Lemahnya regulasi dalam perlindungan konsumen Muslim.

    Sertifikasi Halal di Indonesia “tidaklah diwajibkan” namun bersifat sukarela. Hanya produsen yang “mau” mensertifikasi produknya dengan label halal yang terkena syarat sertifikasi halal. Ini menjadi ironi bagi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

    Di sisi lain, implementasi dan pengawasan terhadap di patuhinya undang-undang ini juga dirasakan masih sangat lemah. Contoh kasus yang telah kita bahas diatas adalah masalah penggunaan label halal self claim. Padahal peraturannya, barangsiapa ingin mencantumkan label halal pada produknya maka dikenakan kewajiban untuk melalui proses dan persyaratan yang telah ditetapkan. Namun pelanggaran akan hal ini masih marak terjadi. (Lihat artikel “Mewaspadai Label Halal” untuk lebih jelasnya). 

    Contoh kasus lainnya adalah maraknya kecurangan dalam perdagangan seperti dibahas di muka, menunjukan betapa lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap masyarakat Muslim.

    Apa yang harus Kita lakukan?

    Menyikapi masalah-masalah yang diuraikan di atas, adalah menjadi urgent bagi kita seorang Muslim untuk mensiasati agar tidak menjadi korban dari kondisi ini. Yang paling utama untuk dilakukan adalah membekali diri dengan pengetahuan yang memadai dan kesadaran akan kewajiban menjaga diri dan keluarga dari barang haram.

    Namun tentu saja ini tidak cukup. Sebagai bagian dari ibadah dan kewajiban kita bersama, adalah mewujudkan apa yang di perintahkan Allah SWT dalam diri, keluarga dan masyarakat kita, termasuk dalam masalah halalan toyyiban. Tidak bisa dikatakan Muslim sejati jika kita berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk merubah keadaan. Rasullullah bersabda :  " Barangsiapa tidak peduli dengan urusan umatku, maka dia tidak termasuk golonganku. "

    Maka sampaikanlah artikel sederhana ini ke saudara dan teman-teman Anda.


    *****

    Semoga bermanfaat

    والسـلام عليكم ورحمة الله وبركات



    Oleh : Ceppy Indra Bestari - PusatHalal.com
    Source : http://www.pusathalal.com/index.php/waspadai-bahan-haram-di-sekitar-kita/144-info-penting-halal-1/597-muslim-indonesia-dikepung-bahan-pangan-haram

    Divisi LITBANG BMT Saka Madani

    Thursday, January 24, 2013

    KELEZATAN DZIKIR

    السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِي م


    Sahabat-Sahabat Muslim yang berbahagia,




    Langkah ikhtiar yang sudah kita lakukan untuk membangun pondasi bisnis kita, tak ada manfaatnya jika kita jauh dari Allah Yang Maha Pemberi Rezeki.

    Kita tidak perlu banyak retorika dalam mendekatkan diri kepada Allah, tak perlu merangkai kata-kata syair bagai sastrawan, karena Islam melalui lisan nabinya yang mulia telah mengajarkan dzikir-dzikir kepada Allah yang dahsyat bacaannya, dan mujarab hasilnya.

    Tujuh Kelezatan berdzikir berikut ini, semoga dapat mencerahkan jiwa kita dan menyemangati hati serta lisan kita untuk BERSEGERA berdzikir kepada Allah. Faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:


    [1] Mendatangkan pertolongan Allah
    [2] Mendatangkan ampunan dan pahala yang besar
    [3] Sebab hidupnya hati
    [4] Mendatangkan ketentraman jiwa
    [5] Jauh dari perangkap setan
    [6] Jalan menuju keikhlasan
    [7] Perlindungan Allah pada hari kiamat


    selengkapnya Anda bisa menyelami kelezatan berdzikir di http://blog.bursamuslim.com/7-faedah-dzikir/


    وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات

    Divisi LITBANG BMT Saka Madani

    Friday, January 18, 2013

    Sholat Jumat bagi Perempuan

    Sholat Jumat ADALAH WAJIB DILAKUKAN HUKUMNYA bagi kaum Lelaki.... Lantas ....... BAGAIMANA SHOLAT JUMAT BAGI PEREMPUAN ?????

    Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

    Terkait hukum Jumatan bagi wanita, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan:

    Pertama, ulama sepakat bahwa wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, meskipun dia tidak sedang safar, dan tidak ada udzur apapun.

    Ibnul Mundzir dalam kitab kumpulan kesepakatan ulama karyanya, beliau menyebutkan :

    وأجمعوا على أن لا جمعة على النساء

    "Mereka (para ulama) sepakat bahwa Jumatan tidak wajib untuk wanita.”  (Al-Ijma’, no. 52) Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Thariq bin Ziyad radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَربَعَة : عَبدٌ مَملُوكٌ ، أَو امرَأَةٌ ، أَو صَبِيٌّ ، أَو مَرِيضٌ

    "Jumatan adalah kewajiban bagi setiap muslim, untuk dilakukan secara berjamaah, kecuali 4 orang: Budak, wanita, anak (belum baligh), dan orang sakit.” (HR. Abu Daud 1067 dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih, 1:190 dan Ibnu Rajab dalam Fathul Bari, 5:327).

    Di antara hikmah, mengapa wanita tidak wajib jumatan adalah agar wanita tidak turut berada di tempat berkumpulnya banyak laki-laki. Sehingga menjadi sebab munculnya tindakan yang tidak diharapkan. Semacam, ikhtilat campur baur antara lelaki dengan wanita. (Badai’ As-Shanai’, 1:258).

    Kedua, wanita boleh menghadiri jumatan Jika ada wanita yang menjaga adab islami, dia dibolehkan menuju masjid untuk melaksanakan shalat Jumat dengan adab-adab islami pula. Cara yang dia lakukan sama persis dengan jumatan yang dilakukan jamaah laki-laki. Artinya, dia wajib mendengarkan khutbah dengan seksama, tidak boleh ngobrol dengan temannya, dan dia hanya shalat 2 rakaat bersama imam, sebagaimana aturan jumatan yang kita kenal. Ibnul Mundzir dalam kitab Al-Ijma’ mengatakan :

    وأجمعوا على أنَّهن إن حضرن الإمام فصلَّينَ معه أن ذلك يجزئ عنهن

    " Mereka (para ulama) sepakat bahwa jika ada wanita yang menghadiri Jumatan bersama imam, kemudian dia shalat bersama imam, maka itu sudah sah baginya.” (Al-Ijma’, no. 53). Maksud Ibnu Mundzir, dia tidak wajib melaksanakan shalat zuhur karena telah melaksanakan Jumatan. Hal senada juga dikatakan Ibnu Qudamah, setelah beliau memaparkan, Jumatan tidak wajib bagi wanita, beliau menegaskan

    ولكنها تصح منها – أي الجمعة – ؛ لصحة الجماعة منها ، فإن النساء كن يصلين مع النبي صلى الله عليه وسلم في الجماعة

    "Hanya saja jumatan itu sah dikerjakan wanita (bersama imam). Karena mereka shalat jamaahnya sah (maksudnya: wanita boleh shalat jamaah, pen.). Dulu para wanita shalat berjamaah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Mughni, 2:243)

    Ketiga, shalat Jumat sendirian di rumah, tidak sah

    Para ulama sepakat bahwa jumatan hanya boleh dikerjakan secara berjamaah. Tanpa jamaah, jumatannya tidak sah. Baik yang melakukan ini laki-laki maupun wanita. Dalilnya adalah hadis yang telah disebutkan di atas

    الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ

    "Jumatan adalah kewajiban bagi setiap muslim, untuk dilakukan secara berjamaah..”

    Artinya, tanpa berjamaah, tidak mungkin bisa jumatan. Hanya saja ulama berbeda pendapat, berapakah jumlah minimal jamaah, sehingga boleh melaksanakan jumatan. Ada yang mengatakan minimal 3 orang, ada yang mengatakan 40 orang, dan ada yang memberi batasan satu kampung.

    Lebih dari itu, wanita juga tidak boleh dilakukan antar-jamaah wanita. Karena pelaksanaan jumatan bagi wanita hanya mengikuti jumatan yang diadakan kaum muslimin laki-laki di masyarakat tersebut. Mereka berkumpul di satu tempat, untuk melaksanakan shalat, mendengarkan khutbah, dan melakukan banyak syiar islam di sana. Dan itu semua tidak mungkin dilakukan oleh wanita.

    Oleh karena itu, jika wanita tidak jumatan di masjid maka dia shalat zuhur di rumah.

    Lajnah Daimah memfatwakan :

    إذا صلت المرأة الجمعة مع إمام الجمعة كَفَتها عن الظهر ، فلا يجوز لها أن تصليَ ظهر ذلك اليوم ، أما إن صلت وحدها فليس لها أن تصلي إلا ظهرا ، وليس لها أن تصلي جمعة Jika wanita shalat Jumat bersama imam masjid, maka itu sudah cukup baginya sehingga tidak perlu shalat zuhur, sehingga tidak boleh melaksanakan shalat zuhur di hari itu (setelah jumatan). Namun jika dia shalat sendirian maka tidak ada kewajiban shalat baginya, kecuali shalat zuhur, dan dia tidak boleh shalat Jumat (2 rakaat, pen.). (Majmu’ Fatawa, 7:337)

    Keempat, yang lebih afdhal, wanita shalat zuhur di rumah dan tidak ikut jumatan

    Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لا تمنعوا نساءكم المساجد ، وبيوتهن خير لهن

    " Janganlah kalian menghalangi istri kalian untuk ke masjid. Dan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Daud 567 dan dishahihkan Al-Albani)

    KEBENARAN ADALAH HAQ ALLAH TA'ALA ...... UNTUK ITU MARI KITA KEMBALIKAN SEGALA URUSAN KEPADA-Nya......!!!!

    Billahit Tawfiq wal Hidayah Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Disadur dari fatwa Islam, no. 73339

    Oleh : ustadz Ammi Nur Baits

    (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

    http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-jumat-bagi-wanita/

    Divisi LITBANG BMT Saka Madani

    Monday, January 14, 2013

    ~~♥♥¤¤ BERITA DARI LANGIT ¤¤♥~~
       حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا { فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا } لِلَّذِي قَالَ { الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا

      Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Amru dia berkata; Aku mendengar Ikrimah berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata;

      Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      "Apabila Allah menetapkan satu perkara di atas langit maka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar.

      Apabila hati mereka telah menjadi stabil, mereka berkata; 'Apa yang difirmankan Rabb kalian? ' mereka menjawab; 'Al Haq, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.'

      Jin-jin pencuri berita mendengarkannya, (mereka bersusun-susun) sebagian di atas sebagian yang lainnya. Mereka mencuri dengar kalimat lalu menyampaikannya kepada yang berada di bawahnya. Bisa jadi jin itu diterjang bintang sebelum menyampaikannya kepada yang di bawahnya, kemudian mereka menyampaikannya kepada lisan dukun atau tukang sihir. Bisa jadi mereka tidak diterjang oleh bintang sehingga dapat menyampaikannya, kemudian dicampur dengan seratus kebohongan. Maka kalimat yang didengar bisa sesuai dengan yang dari langit."

      ( HADITS BUKHARI 45. 313/4426. )

      Sahabat2ku Rahiimakumullah...... Berita2 dari dukun atau tukang sihir .....yg mungkin saja berupa ramalan misalnya.... bisa jadi ada benarnya...... TAPI YUKKKK KITA INGAT BAHWA SUMBER2 BERITA ITU ADALAH DARI JIN2 USIL PENCURI BERITA2 LANGIT..... DAN YUKKK KITA INGAT SELALU BAHWA MEREKA ADALAH MAKHLUK2 ALLAH YANG BERSIFAT MUNAFIK !!!!!

      So???? Jangan salah jika dalam berita2 itu terdapat SERATUS KEBOHONGAN VERSI MEREKA !!!!!! Dan sebagai seorang mukmin yg BAIK.....adalah dosa jika mempercayai apalagi meyakini BERITA YANG SUMBERNYA DARI PARA DUKUN DAN AHLI SIHIR !!!!!

      KEBENARAN ADALAH HAQ ALLAH TA'ALA ...... UNTUK ITU MARI KITA KEMBALIKAN SEGALA URUSAN KEPADA-Nya......!!!!

      Billahit Tawfiq wal Hidayah Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

      KEINDAHAN AJARAN ISLAM

      ~~¤♡♥♡¤~~

      FB Group http://www.facebook.com/groups/213402575356/ Semoga bermanfaat...........

      Divisi LITBANG BMT Saka Madani

    Sunday, January 6, 2013

    Penggalian Dana Infaq & Shodaqoh lewat Kotak Amal


    ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم
    Dalam Al Qur’anul Karim pada Juz 2 Surrah Al Baqoroh : 195, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya Arab, mudah-mudahan sesuai dengan isi, pokok, dan maksud serta hikmah sesuai dengan yang aslinya, sebagaimana berikut :
    “ Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah SWT, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan/kehancuran, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” Surrah Al Baqoroh : 195
    Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepedulian umat terhadap sesamanya, Baitul Maal Saka Madani membuat Program Penyebaran ‘Kotak-Kotak Infaq’ pada tempat-tempat strategis yang mudah dilihat dan dijangkau oleh para MUZAKI.
    Sasaran utama isi dari ‘Kotak Infaq’ tersebut adalah uang sisa belanja ketika seorang MUZAKI membeli suatu barang atau jasa di tempat umum. Sebuah nominal uang, yang biasanya kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang dan biasanya tergeletak di berbagai tempat di rumah kita.
    Kami menititipkan ‘Kotak Infaq’ ini ke berbagai tempat strategis ( mis. : Toko, Tempat Pembayaran Listrik & Telepon, Kantor, dll) yang bersedia menerimanya. Sebagai PILOT PROJECT, mulai pertengahan bulan Juni 2009 ini, kurang lebih telah kami sebar kurang lebih pada 60-an Titik Strategis di Yogyakarta.
    Penggunaan dana yang terkumpul dari Program ‘Kotak Infaq’ tersebut antara lain untuk :

    • Kotak Infaq SATU AYAT adalah untuk Program Santunan Anak Yatim, (sebagai contoh hasil pelaksanaan program ini, silahkan Anda KLIK DISINI),
    • Kotak Infaq Umum/Polos, diantaranya adalah untuk Program Dana Bergulir Al Qordul Hasan (sebagai contoh hasil pelaksanaan program ini, silahkan Anda KLIK DISINI).
    Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Saudara-saudara kaum Muslimin TERLEBIH kepada Saudara-Saudara Pemilik Tempat yang telah mendukung dan bersedia membelanjakan sebagian hartanya lewat Baitul Maal Saka Madani. Semoga harta tersebut bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Dan mudah-mudahan Allah سبحانه وتعلى berkenan menerima amalan Saudara-saudara kelak di hari pembalasan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin
    وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات
    Divisi LITBANG BMT Saka Madani

    Sunday, December 27, 2009

    Apa sebenarnya maksud Allah memberi ujian kepada kita ?

    tag : Apa sebenarnya maksud Allah memberi ujian kepada kita ?

    السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

     

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Bagian I
    Setiap manusia yang hidup pasti pernah mengalami sebuah kondisi yang secara manusiawi berat untuk menerimanya। Dalam tuntunan Islam, keadaan itu dinamakan ujian atau cobaan dari Allah Ta’ala.

    Beberapa pertanyaan dalam hati…atau juga terkadang sering terlontar dari mulut kita : “ Kenapa cabaan datang kepadaku bertubi-tubi….Ada apa ini?”….atau “ Aku sudah sholat….sudah sedekah….kenapa kesuksesanku belum juga datang??” …….atau “Ya Allah ….orang yang aku kasihi…aku cintai…..telah Engkau putuskan ….Engkau ambil!!”……..atau yang lebih ekstrim, “ Kenapa Allah tidak sayang aku….Dimanakan Dia berada?”….dll.
    Subhanallah……Maha Suci Allah, marilah kita jauhkan prasangka buruk kepada-Nya। Allah Ta’ala Maha Tahu akan keadaan hamba-hamba-Nya. Banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar batas kemampuannya. Kita musti iman hal itu dan mesti meyakini hal itu.

    Sebuah kesalahan kolektif telah dilakukan oleh umat Muslim, setiap hari minimal dalam surat yang dinamakan ‘Tujuh yang Di ulang-ulang’…..atau juga sering disebut ‘Ummul Qitab’…. Atau juga disebut ‘Al Fatehaah’ ……dimana minimal dibaca 17 kali dalam sehari terdapat ayat yang berbunyi :

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    1.5 Hanya Paduka yang kami sembah, dan hanya kepada Padukalah kami meminta pertolongan.

    Hanya kita lafalkan sebagai sebuah rutinitas saja ? Dikala rutinitas itu sudah kita laksanakan…menurut kita sudah lunas pula kewajiban kita ? Kenapa tidak kita baca dengan benar….kemudian kita hayati…kemudian kita amalkan ayat tersebut ? Kenapa pula kita lebih senang dengan cara-cara Instan untuk mendapatkan sesuatu ? Bahkan….kita lebih mempercayai pertolongan dan daya upaya orang lain daripada Tuhannya sendiri ? Padahal setiap hari kit abaca ayat-Nya itu? Tidak sadarkah kita bahwa segala sesuatu yang akan terjadi …telah terjadi…dan sedang terjadi….semuanya adalah atas ijin dan perkenan-Nya ?

    Dibawah ini kami sampaikan pula beberapa dalil dan nash yang Insya Allah dapat menambahkan keimanan kita, dan membuka wawasan kita …… Kenapa sampai cobaan dari Allah itu hadir untuk kita ?

    Menurut Hadits Qudsi :


    “Yaquwlu Allahu Ta’alaa Limalaa ‘Ikatihii : In Tholiquw Liyaa ‘Abdii Fashubbuw ‘Alayhil Balaa’a Shobba Fa Inni Uhibbu An Asma’a Showtaru.”
    Terjemahannya : Allah berfirman kepada Malaikat-Nya : “Pergilah kepada hamba-Ku। Lalu timpakanlah bermacam-macam ujian kepadanya karena Aku hendak mendengar suaranya.” ( HQR Thabarani yang bersumber dari Abu Umamah r.a. )

    Berdasarkan Hadits Qudsi tersebut, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya, yang tidak pernah durhaka dan selalu melaksanakan perintah-Nya, untuk melakukan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya, dengan salah satu tujuan yaitu : terdengar suara hamba-Nya yang sedang diuji tersebut। Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tergores dalam hati hamba-hamba-Nya.

    Hidup ini tidak akan pernah sunyi akan : senang dan susah….atau suka dan duka. Keduanya berjalan silih berganti, sebagai sebuah sunatullah….ketetapan-Nya. Hidup ini penuh dengan cobaan, karena segala sesuatu jika tidak diuji, tidak pula nampak keasliannya. Seorang pelajar ….untuk bisa dikatakan naik tingkat, dia harus menjalani ujian terlebih dahulu. Seorang Karyawan pun demikian pula, bila akan naik pangkat. Para pedagang pun akan menguji barang dagangannya untuk mengetahui keasliannya, supaya dia tidak tertipu. Bukankah demikian ? Kenapa untuk urusan duniawiah kita tidak protes ? Tidak unjuk rasa ? Tapi tatkala ujian datang dari Allah …kita menggerutu….buruk sangka kepada-Nya? Astaghfirullahal’adzim……marilah kita perbanyak istighfar।

    Firman Allah dalam surat Al Ankabut (29) : 2-3 :


    أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
    Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? 

    وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


    Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

    Marilah kita simak dan hayati pula Firman Allah dalam Surat Al-Kahfi (18) : 7-8 :

    إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

    Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

    وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيداً جُرُزاً


    Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.
    Bagian II

    Ujian tidak hanya berupa kesusahan, kesulitan, dan kesakitan saja, akan tetapi dapat pula berbentuk kesenangan, seperti : kedudukan, harta, dsb। Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al Anbiyaa (21) : 35 :


    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

    Ujian dari Allah yang berupa nikmat harta dan berbagai kesenangan, pada hakekatnya lebih berat daripada ujian dalam wujud kesusahan dan bencana। Orang akan cenderung ingat …dan kembali kepada agamanya….beribadah kembali dengan giat….memohon kembali kepada Tuhannya sambil menangis tersedu-sedu….bila ia tertimpa kesusahan dan bencana. Kebanyakan orang tidaklah demikian bila ia sedang dalam kegembiraan dan kesenangan. Bukankah demikian ? Batapa tidak adilnya kita ….betapa tidak malunya kita !!! Astaghfirullahal’adzim…॥marilah kita perbanyak istighfar.

    Bagaimana seandainya kondisi itu dibalik…॥tatkala kita menjadi seorang pempimpin, kemudian anak buah kita berperilaku demikian…।dia ingat kita pada saat dirinya menderita …. Dikala senang ‘lupa-lupa ingat’….seperti judul sebuah lagu. Apa yang akan kita lakukan terhadapnya ? Marah ? Menegurnya ? Memecatnya ? Mungkin hal-hal yang berbau nafsu lainnyalah yang akan kita lakukan….akan tetapi Allah Ta’ala ?? Allah Ta’ala tetap Maha Rahman dan Rahiim bukan ? Maha Pengasih dan Penyayang bukan ?

    Kekayaan, harta, pangkat, kemegahan, kekuasaan adalah ujian terberat bagi seorang manusia, apabila dia sadar dan mengetahuinya Hal itu pun merujuk pada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al ‘Alaq (96) : 6-8 :


    كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى
    Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
    أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى
    karena dia melihat dirinya serba cukup.
    إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى
    Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

    Rasulullah SAW pernah pula bersabda :


    “ Wa Allahi Maal Faqru Akhsyaa ‘Alaykum Walaakinni Akhsya An Tubsathaad Dunyaa ‘Alaykum Kamaa Busithot ‘Ala Man Kaana Qoblakum, Fanunaa Fisuwhaa, Kamaa Tanaa Fasuwhaa Fatahlikakum Kamaa Ahlakathum.” Terjemahannya :
    Demi Allah, bukanlah kefakiran atau kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi justru aku kuatir ( kalau-kalau) kemewahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula ( HR. Bukhari )

    Ujian dan Cobaan dari Allah itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat pula। Ada ujian yang menimpa tubuh (kesehatan), anak (kenakalan), harta kekayaan (miskin atau kaya), kekuasaan ( diberi amanat atau dikhianati), jabatan (promosi atau degradasi), aqidah (murtad atau mu’allaf), dsb. Demikian pula perintah dan larangan dalam Agama Islam sendiri termasuk juga sebuah ujian dan cobaan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ‘Agama adalah Ujian dan Cobaan’.

    Pada bagian terdahulu telah kita bahas tentang ujian yang terberat yang menimpa seorang manusia adalah kesenangan dan kemewahan dunia। Pada bagian ini akan kita bahas ujian yang teringan yang akan menimpa manusia.

    Ujian teringan adalah yang menimpa pada tubuh (mis। penyakit, kecelakaan, dll). Ujian pada tubuh ini mempunyai tujuan untuk menguji kesabaran, kerelaan dalam menerima qodlo’ dan qodar dari Allah Ta’ala. Jika memang lulus, dengan indikator : sabar, msks ditetapkan-Nya lah pahala dan dihapuskan dari sebagian dosa atau pun diangkat derajatnya, hingga ujian itu menjadi sebuah rasa nikmat baginya.

    Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW berikut :


    “Maa Min Muslimin Yushiybuhu Aza, Syaw Katun Famaa Fawqohaa Illaa Kaffaro Allahu Bihaa Sayyi’aa Nihi, Wa Huththon ‘Anhu Dzunuubuhu Kamaa Tahuththusy Syajarotu Wa Ro Fahaa.”, terjemahannya :
    Tidak ada seorang Muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu dihapuskan Allah perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.  (HR. Muttafaq’alaih)
    “ Maa Yazaalul Balaa’u Bil Mu’mini Wal Mu’minati Fiy Nafsihi Wamaalihi Wa Waladihi Hatta Balqo Allaha Wamaa ‘Alayhi Khothiy’at.”
    Terjemahannya :
    Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa Kaum Mu’minin pria atau pun wanita, yang mengenai dirinya, hartanya, anaknya, tetapi ia tetap sabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tiada berdosa. (HR. Turmudzi)
    “Maa Yushiybu Min Nashobin Walaa Hamin Walaa Hazhanin Walaa ‘Adzan Walaa Ghomin, Hattasy Syawkati Yusyaa Kuhaa Illaa Kaffaro-Allahu Bihaa Min Khothooyaahu.” Terjemahannya :
    Tidak ada mushibat yang menimpa seperti keletihan, kelesuan, sakit, duka, susah atau gangguan sekedar tusukan duri sekalipun, melainkan dihapuskan oleh Allah sebagian dari dosanya. (HR. Bukhori dan Muslim )
    “Inna Likulli Ummatin Fitnatan, Wa Fitnatu Ummatiyl Maalu”,
    terjemahannya :
    Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian, dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan. (HR Turmudzi)

    Dalam sebuah Hadits Qudsi dikemukakan :
    “Ibnaa Aadama, ‘Indaka Maa Yakfiyka, Wa Anta Tathlubu Maa Yuthghiyka. Ibna Aadama, Laa Bi Qoliylin Taqna’u, Wa Laa Bikatsiyrin Tasyba’u. Ibna Aadama, Idzaa Ashbahta Mu’aafa Fiy Jasadika, Aamina Fiy Sirbika, ‘Indaka Quwtu Yawmika, Fa’alaad Dunyaal ‘Afaa’u.” terjemahannya :
    Wahai Anak Adam ! Padamu telah ada kecukupan, namun engkau masih saja mencari-cari apa yang nantinya akan menjadikan engkau melampaui batas. Wahai Anak Adam ! Engkau ini tidak puas dengan yang sedikit dan tidak kenyang dengan yang banyak. Wahai Anak Adam ! Apabila pagi-pagi jasadmu telah diberi sehat dan afiat, merasa aman dalam lingkungannya dan mamiliki makanan untuk hari itu, tak perlu kau pedulikan lagi apa yang terjadi terhadap dunia.

    Bagian III
    Ujian berupa cinta akan melampiaskan hafa nafsunya dan dalam rangka fitrah manusia melanjutkan keturunannya, dapat kita pelajari dari firman Allah Ta’ala :

    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [l86] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

    Dalam kisah para Nabi dilukiskan bahwa Nabi Ibrohim a।s. mendapatkan ujian untuk menyembelih anak kandungya sendiri (beliau Nabi Isma’il a.s). Berkat kepatuhan, ketaatan, dan keimanannya kepada Allah Ta’ala, beliau Nabi Ibrohim a.s. lulus dari ujian tersebut, sehingga nabi Isma’il selamat dari pisau ayahnya sendiri dan digantikan oleh Allah Ta’ala dengan biri-biri sebagai korban yang sebenar-benarnya. Disamping itu kita ketahui bersama, dan sejarah pun membuktikan, betapa karunia yang diberikan kepada Allah Ta’ala sungguh sangat besar dan luar biasa kepada beliau, dimana anak keturunan beliau banyak yang menjadi Nabi dan Rasul, sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Nabi. Sungguh kenikmatan dunia dan akhirat yang sangat besar, dan merupakan cita-cita setiap orang yang beriman di dunia ini.

    Demikian pula, ujian berat bagi kaum laki-laki adalah ujian kaum perempuan, ujian si rambut panjang, sebagaimana Hadits Nabi SAW berikut :

    “Maa Taroktu Ba’diy Fitnatan Adhorro ‘Alar Rijaali Minan Nisaa’i.” terjemahannya :
    Sepeninggalku tiadalah ujian yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki kecuali godaan kaum perempuan. (HR. Bukhori)

    Adapun ujian yang menyebabkan manusia mudah tergelincir adalah ujian mengenai AQIDAH dan Agama। Banyak orang yang mengaku Muslim, Beriman, termasuk pula …॥ maaf : Alim ‘Ulama didalamnya, setelah diuji Iman dan Agamanya oleh Allah SWT dengan berbagai cobaan, ternyata lemah dan terjerumus dalam lembah syahwat serta keinginannya menjadi sesat.

    Marilah kita renungkan dan pahami bersama ayat-ayat-Nya yang tedapat pada Surat Al Ankabut (29) : 10 – 11 sebagaimana berikut :

    مِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاء نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
    Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah . Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?
    وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
    Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.

    Dijelaskan pula dalam Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut :
    “ Asyaddunnaasi Balaa’al Anbiyaa’u Tsummal Amtsalu Faal Amtsalu.Yubtalar Rojulu ‘Alaa Hasabi Diynihi. Fa Inkaana Syadiyda Fiy Diynihi Shulbasytada Balaa’uhu Wa Inkaana Fiy Diynihi Riqqotub Talaahu-Allahu ‘Alaa Hasabi Diynihi, Famaa Yab Rohul Balaa’u Bil ‘Abdi Hatta Bayrukahu Yamsyiy ‘Alaal Ardhi Wa Laysa ‘Alayhi Khothiy’atun.” Terjemahannya :
    (Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri)। Orang yang sangat banyak mendapat ujian itu adalah para Nabi, kemudian baru orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatannya kepada Agama. Jika ia sangat kukuh dan kuat dalam agamanya, sangat kuat pula ujian kepadanya dan jika lemah agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikianlah bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apa pun. (HR. Turmudzi)

    Dari keterangan tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa bala’, ujian, dan cobaan kepada seorang hamba Allah adalah bertujuan :
    1. Membersihkan dan memilih serta menggolongkan tingkat kesabaran, keimanan, ketaatan, atau bahkan kemunafikan seseorang.
    2. Bila kita dapat lulus dari ujian tersebut, dapat mengkangkat derajat dan menghapuskan dosa serta kekhilafan yang pernah kita lakukan.
    3. Mambentuk dan menempa kepribadian seorang Mukmin, agar menjadi pribadi yang benar-benar tahan ujian serta melahirkan umat yang memiliki budi pekerti luhur.
    4. Latihan dan pembiasaan sehingga setiap manusia yang diuji dan dicoba akan bertambah sabar, kuat cita-citanya dan tetap pendiriannya. (Ringkasan tulisan M Ali As-Shabuni, Rabithah Alam Islami No. 4 tahun IV Bulan September 1966)

    Sebagai penutup marilah kita senantiasa mengingat, merenungkan, dan mengamalkan ayat-ayat-Nya yang berbunyi dalam Surat Ash-Sharh (94) :

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
    Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
    وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
    dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
    الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
    yang memberatkan punggungmu ?
    وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
    Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu ,
    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
    إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
    sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
    فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
    Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ,
    وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
    dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

    Maha Benar Allah dengan segala macam firman-Nya

    Semoga bermanfaat

    والسـلام عليكم ورحمة الله وبركات

    Tuesday, December 1, 2009

    KIAT MEMBUKA PINTU REJEKI

    السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِي م


    Terdapat sekurangnya 10 macam kiat pembuka pintu rezeki dan tidak salah kiranya jika kita mencoba meraihnya. Sedangkan dalil penunjukannya baik berupa ayat Al-Qur’an maupun dari hadist-hadist Nabawi.
    Sengaja saya hanya mencantumkan dalil saja tanpa memberi penjelasan lebih jauh dan selanjutnya teman-teman sendiri yang harus sibuk mencarinya, jika ingin mengetahui lebih jauh, baik membaca, bertanya kepada ustadz terdekat, datang ke majelis taklim dan lain sebagainya. Apakah salah kita mencari rezeki dengan cara seperti yang ditunjukan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi? Tidak! Silahkan saja karena Al-Qur’an milik kita, dan pencarian rezeki ini ditunjukan oleh Allah dan Nabi Saw.
    Kiat memperolehnya antara lain:
    1. Istighfar dan Taubat
    Nuh (71) : 10
    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

    maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,
    Nuh (71) : 11
    يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً

    niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
    Nuh (71)  : 12
    وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً  
    dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
    Hasan al-Bashri salah seorang pemuka di kalangan tabi’in selalu menganjurkan banyak istighfar kepada siapa saja yang datang kepadanya ketika mengadu tentang gagal panen, sulit rezeki, sulit mendapatkan keturunan, dan sawah ladang yang tidak produktif. (Tafsir Qurthubi)

    2. Takwa
     At-Talaaq (65) : 2
    فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً

    Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
    At-Talaaq (65)  : 3
    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً  
    Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
    Al-A'raf (7)  : 96
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
    3. Tawwakal
    “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapa, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibn Mubarak, Hakim, Musnad asy-Syihab. Sanadny disahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani)

    4. Taat dan Beribadah Sebaik-baiknya
    “Sesungguhnya Allah berfirman, “ Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-KU, niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan semua kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan (tidak taat) Aku penuhi dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (tidak ada hasilnya semua usaha).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dari Abu Hurairah. Al-Albani mensahihkannya)

    5. Melaksanakan Haji dan Umrah
    Pertanyaan ini sering, “Apakah haji dan umrah ini akan mendatangkan rezeki?"
    Inilah dalilnya:
    “Lanjutkan haji dan umrah karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa. Sebagaimana api dapat menghilangkan karat, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur kecuali surga.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Syeikh Ahmad Syakir mengatakan sanadnya sahih, Al-Albani mengatakan hasan sahih sedangkan Syeikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hasan)

    6. Silaturahmi
    “Siapa saja yang suka agar rezekinya luas, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memperbanyak silaturahmi.” (HR. Bukhari)
    Maksud dari dipanjangkan umur dalam hadist ini adalah berkah umur menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Barri.
    “Belajarlah tentang nasab (garis keturunan) sehingga kalian bisa menyambung silaturhami. Karena sungguh silaturahmi itu adalah (salah satu cara) menimbulkan kasih saying antara keluarga, (sebab) luasnya rezeki dan bertambah usia (berkah umur).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Ahmad Syakir dan Al-Albani mensahihkannya)

    7. Sedekah dan Infak
    Ya-Sin (36) : 47
    وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمْ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

    Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata".

    Saba (34)  : 39 
    قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
    Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

    “Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan: Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku memberi rezeki kepada kamu.” (HR. Muslim )

    8. Membiayai Pelajar Yang Sedang Menuntut Ilmu Islam
    “ Dahulu ada dua orang bersuadara pada masa Rasulullah Saw. Salah seorangnya pernah datang kepada Nabi Saw (untuk belajar ilmu agama), sedangkan saudara yang lainya bekerja, Lalu saudara yang bekerja itu pernah mengadu (mengadukan bahwa saudaranya itu tidak mau membatunya dalam kerjaannya) kepada Nabi, dan beliau bersabda,” Mudah-mudahan engkau diberi rezeki sebabi itu.” (HR. Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Albani mensahihkannya)

    9. Menolong dan Membantu Yatim & Orang Miskin
    An-Nisa (4)  : 10
    إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَاراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً
     Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
    Dalam sahih Bukhari dikisahkan bahwa Sa’ad merasa dirinya memiliki kelebihan dari pada yang lain. Kemudian Rasulllah Saw bersabda:
    “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki lantaran orang-orang miskin?”

    “Carilah keridhaan-Ku melalui orang-orang miskin diantara kalian. Karena sungguh kalian diberi rezeki dan ditolong karena sebab orang miskin diantara kalian.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, dan Hakim. Disahikan oleh Albani )

    10. Hijrah Di Jalan Allah
    Makna hijrah selain dari kata asalnya mencakup banyak arti. Diantaranya menurut Rasyid Ridha adalah menolong sesama Muslim agar tidak terjerat oleh hasutan agama lain agar masuk ke agama mereka. Dan tentunya bantuan ini sangat berharga bila berbentuk dana untuk pendidikan mereka, makanan, obat-obatan dan lainnya.
    An-Nisa (4)  : 100
    وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
    Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
    Semoga bermanfaat
    والسـلام عليكم ورحمة الله وبركات


    Penulis : Kang Ackmanz
    Post Editing : SAKAMADANI

    Sunday, August 30, 2009

    Jihad Fisabilillah : menurut Dasar Hukum Syariah Islam

    Jihad Fisabilillah : menurut Dasar Hukum Syariah Islam 

    ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم

    Al-'Imran (3) : 142

    أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

    Dalam Al Qur’anul Karim pada Juz 4 Surrah III Ali Imron : 142, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya Arab, mudah-mudahan sesuai dengan isi, pokok, dan maksud serta hikmah sesuai dengan yang aslinya, sebagaimana berikut :

    “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Surrah III Ali Imron : 142

    Menurut Syariah Islam (berdasarkan buku Al qur’an dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an Republik Indonesia, 1971, Hadiah dari : Raja Fahd ibn ‘Abdl al ‘Azis Al sa’ud), yang dimaksud dengan ‘jihad fisabilillah’ adalah :

    1. Berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam;
    2. Memerangi hawa nafsu;
    3. Mendermakan harta benda untuk kebaikan dan umat Islam;
    4. Memberantas yang ‘Bathil’ (Salah) dan menegakkan yang ‘Haq’ (benar)

    Dalam perspektif modern dan keadaan yang terjadi pada era tahun 2000-an ini, juga berdasarkan ajaran Allah سبحانه وتعلى dalam salah satu ayat-Nya yang menceritakan tentang hewan: Lebah, dimana sifat lebah tersebut adalah :

    • Lebah hanya mau memakan sari pati dari suatu tumbuhan. Sari pati tumbuhan adalah suatu inti dari sebuah pohon dan merupakan sesuatu yang bersih/suci.
    • Di dalam rumahnya, lebah menghasilkan suatu zat yang bernama madu, yang dapat berguna bagi makhluk-Nya yang lain, makhluk-Nya yang paling sempurna, yaitu manusia.
    • Ketika Lebah mencari makan, dan terlebih dimanapun dia berada, ia tidak akan mengakibatkan kerusakan, bahkan pada tempat dimana dia mencari makan sekalipun, dan walaupun wujudnya kecil sekalipun, yaitu ujung putik sebuah bunga.
    • Semangat persatuan lebah sangat tinggi, terutama ketika ia atau keluarganya diusik. Ia tidak segan-segan dan tanpa rasa takut akan berusaha melawan, hingga mungkin nyawanya pun tidak dia hiraukan keselamatannya, dan walapun lawannya mempunyai fisik yang jauh lebuh besar dan sempurna dari dirinya.

    Subhanallah…..sebuah ajaran yang sangat indah dari Allah سبحانه وتعلى. Umat Islam, yang dapat bertindak atas nama individu yang mewakili diri pribadinya masing-masing, maupun sebagai sebuah jama’ah yang bertindak mewakili dan merupakan cerminan sebuah umat, umat berakhlak mulia, dibawah pimpinan Rasulullah صلى الله عليه وسلّم, maka umat Islam harus menjadi makhluk-Nya yang bermanfaat dan tidak boleh membuat kerusakan di muka bumi ini. Hal itu dikarenakan pula bahwasanya, manusia adalah ‘khalifah’ pemimpin di muka bumi, bukan pimpinan yang sering arogan dan membuat kerusakan di muka bumi.  

    Wahai saudara-saudaraku….marilah kita ingat, ketika Allah سبحانه وتعلى menawarkan kepada semua makhluk-Nya, untuk menjadi ‘khalifah’ di muka bumi Allah سبحانه وتعلى ini, hanyalah manusia, satu-satunya makhluk yang bersedia, ketika makhluk-makhluk-Nya yang lain tiada sanggup untuk menjunjung tugas mulia itu. Terlebih lagi, kita umat muslim adalah manusia termulia, untuk itulah marilah kita mejadi makhluk-Nya yang bermanfaat dan tidak membuat kerusakan, minimal terhadap diri kita sendiri dan lingkungan kita.

    Marilah kita tegakkan Syiar Islam, sebagaimana saat Rasulullah صلى الله عليه وسلّم berdakwah. Dengan kasih sayang dan sifat pemaaf. Jika memang JIHAD itu ditafsirkan sebagai perang, marilah kita kembalikan kepada tuntunan dan ajaran Allah سبحانه وتعلى pada sifat lebah sebagai mana tertulis di atas. Dan itu adalah sebuah jalan akhir, jika memang sudah tertutup jalan yang lain selain perang. Bukan berarti umat Islam adalah sebuah umat yang lemah atau pun penakut. Allahu Akbar….. Allah سبحانه وتعلى Maha Besar dan Maha Kuasa.

    Marilah kita buka mata kita…hati kita, berpikirlah secara dingin dan rasional terhadap kejadian yang akhir-akhir ini menimpa kita: antar sesama muslim telah diadu domba, baik antar jama’ah maupun antar Negara !!! Subhanallah …..Bukankah demikian ??????? Kita tidak usah sibuk mencari-cari oleh siapa …. dan tujuannya dibalik itu semua. Karena memang sudah jelas…dan sangat jelas tertulis dalam Al Qur’anul Karim, siapakah gerangan dibalik semua ini !!!!

    Yang perlu kita lakukan adalah : marilah kita kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, karena itu adalah senjata utama kita. Marilah kita menjadi umat dan jama’ah yang KUAT, kuat dalam bidang PERSATUAN…..kuat bidang EKONOMI…..dan terlebih kuat dalam AKHLAK !!! Jika itu telah kita lakukan, yakinlah bahwa Allah سبحانه وتعلى bersama kita. TIDAK MUNGKIN TIDAK !! Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar….!!!!!

    Sebagai kata penutup, marilah kita ingat dan selalu kita tanamkan ke dalam benak kita, terhadap salah satu keindahan perintah-Nya :

    Al-'Imran (3) : 103


    وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Surrah Al-'Imran (3) : 103


    Semoga bermanfaat.

    وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات

    Artikel terkait : Jihad Fisabilillah !!! Haruskah dengan kekerasan?? Silahkan baca disini   

    R&D
    SAKAMADANI
    http://sakamadani.blog.ekonomisyariah.net/

    Saturday, August 29, 2009

    Kesempurnaan Kebajikan Seorang Hamba yang Beriman

    ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم

    Al-'Imran (3) : 92

    لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

    Dalam Al Qur’anul Karim pada Juz 4 Surrah III Ali Imran : 92, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya Arab, mudah-mudahan sesuai dengan isi, pokok, dan maksud serta hikmah sesuai dengan yang aslinya, sebagaimana berikut :

    “ Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada (menjadi sebuah) kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian (sebagian) harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahui.” Surrah III Ali Imran : 92

    Amat jelas, perintah Allah سبحانه وتعلى  sebagaimana terdapat pada Juz 4 Surrah III Ali Imran : 92 tersebut . Kesempurnaan amalan manusia, terutama hamba-hamba-Nya yang beriman adalah apabila ia bersedia untuk membelanjakan sebagian harta yang dicintainya. 

    Penggunaan kata : ‘harta yang dicintainya’ dalam ayat ini amat menarik untuk disimak dan dicari hikmahnya. Kenapa Allah سبحانه وتعلى tidak memakai istilah : ‘harta yang dimilikinya’, sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat-Nya yang lain ? Mari kita simak firman Allah سبحانه وتعلى yang lain :

    Al-'Imran (3) : 14

    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ  

    Dalam Al Qur’anul Karim pada Juz 3 Surrah III Ali Imran : 14, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya Arab, mudah-mudahan sesuai dengan isi, pokok, dan maksud serta hikmah sesuai dengan yang aslinya, sebagaimana berikut :

    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis : emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Surrah III Ali Imran : 14

    Mungkin itulah salah satu maksud dan hikmah, kenapa Allah سبحانه وتعلى menggunakan istilah : ‘harta yang dicintainya’ dalam Surrah III Ali Imran : 92.  Segala keindahan dunia ini hanyalah fatamorgana….semu….dan sifatnya sementara saja.

    Dalam rangka menggapai kehidupan akhirat yang baik, maka kita harus menjadi makhluk-Nya yang beriman dan bertaqwa. Untuk melengkapi, atau bahkan menyempurnakan amal dan ibadah kita di dunia ini, maka kita harus : ‘Menafkahkan / membelanjakan sebagian harta yang kita miliki dan kita cintai ini di jalan Allah سبحانه وتعلى’.

    Semoga,  Allah سبحانه وتعلى , berkenan memberikan kemudahan kepada kita dalam beribadah di dunia ini. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

    Sunday, August 23, 2009

    Infaq untuk Jalan Allah سبحانه وتعلى


    ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم

    Dalam Al Qur’anul Karim pada Juz 1 Surrah ke-2 Al Baqarah : 273, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya Arab, mudah-mudahan sesuai dengan isi, pokok, dan maksud serta hikmah sesuai dengan yang aslinya, sebagai berikut :

    لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ  

    ( Berinfaklah / Lakukanlah Infaq ) kepada orang-orang fakir yang terikat ( oleh Jihad ) di jalan Allah سبحانه وتعلى ; mereka tidak dapat (berusaha/mencari nafkah secara teratur) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang yang kaya karena mereka ( menahan ) memelihara diri dari perbuatan meminta-minta (mengemis). Kamu mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak mengemis kepada orang lain secara mendesak. Dan apa pun harta yang baik yang kamu belanjakan ( nafkahkan di jalan Allah سبحانه وتعلى ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

    Surrah ke-2 Al Baqarah : 273

    Dari penggalan ayat di atas, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil diantaranya :

    1. Umat Islam di ajarkan oleh Allah سبحانه وتعلى untuk menjadi umat yang PEDULI kepada sesama manusia, terlebih kepada beliau-beliau yang telah bersedia mengorbankan waktu, tenaga, dan ilmunya di jalan Allah سبحانه وتعلى.
    2. Umat Islam di ajarkan oleh Allah سبحانه وتعلى untuk menjadi umat yang mempunyai HARGA DIRI, walapun kondisi yang sebenarnya hidup dengan kondisi di bawah standar kehidupan yang layak, akan tetapi diajarkan untuk tidak MENGEMIS dan lekas menyerah dengan kondisinya, terlebih apabila mereka sedang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعلى.

    Berdasarkan pertimbangan dari hikmah yang dapat kita petik dari Surrah ke-2 Al Baqarah : 273 tersebut, Untuk lebuh tepatnya di dalam kondisi dunia modern saat ini, dimana dunia tidak dalam kondisi peperangan, dan umat Islam tidak dalam kondisi TERDESAK dan TERTINDAS karena adanya perang, maka lebih tepat jika orang-orang yang telah berjuang di jalan Allah سبحانه وتعلى ( jihad ) diantaranya adalah : Da’I, ustadz, para pengajar TPA, ‘Amil , dll.


    Beliau-beliau …yang insya Allah adalah termasuk ke dalam golongan Fisabilillah itu, seringkali tidak pernah terbersit dalam pikiran kita, bahwa mereka telah mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga nya demi tegaknya Syiar Islam di bumi Allah سبحانه وتعلى ini. 


    Memang buah dari apa yang saat ini mereka usahakan di dunia, kelak di akhirat adalah urusan Allah سبحانه وتعلى , akan tetapi pada saat beliau-beliau tersebut masih segar bugar dan masih menjadi bagian dari kita di dunia ini, siapakah yang memikirkannya …. Jika bukan kita saudara-saudaranya sesama muslim yang lain??? Mereka mempunyai keluarga…..mereka butuh menghidupi dan menafkahi keluarganya….untuk makan anak dan istrinya….untuk menyekolahkan anak dan istrinya….untuk berobat jika sakit…dan lain-lain. 


    Kita boleh melihat dan bangga terhadap kemapanan : Al Ustadz Yusuf Mansyur, Al Ustadz Arifin Ilham, Al Ustadz Aa’ Gym, Al Ustadz Zainudin MZ, dll ……..Akan tetapi, beliau-beliau tersebut hanyalah segelintir dari beribu-ribu Al Ustadz- Al Ustadz lainnya, yang mungkin masih hidup dengan kondisi kurang berkecukupan ( di bawah standar kehidupan layak). Dan beliau-beliau tersebut, justru kebanyakan hidup dan berada di sekitar kita. 


    Baitul Maal Saka Madani, dimulai pada awal bulan Juni 2009 telah meluncurkan Program TABIR ( Tabungan Hari Akhir, selengkapnya klik disini ), dengan pembelanjaan dari program ini diantaranya adalah berusaha sedikit mengangkat kesejahteraan saudara-saudara kita yang telah berjuang di jalan Allah سبحانه وتعلى .


    Untuk itulah diperlukan penyadaran kepada kita seluruh umat Islam, biarlah hidup ini berjalan sesuai dengan maqomnya masing-masing…..dan marilah kita sisihkan sebagian harta yang telah dititipkan-Nya kepada kita untuk dibelanjakan di jalan Allah سبحانه وتعلى , sebagai salah satu wujud kepedulian kita dan pertanggung jawaban kita kelak di akhirat.

    Semoga bermanfaat


    وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات

    Baitul Maal 
    LKMS BMT Saka Madani
     



    Friday, August 7, 2009

    Sebuah kisah nyata tentang Manfaat dan Hasil Shodaqoh

    ألسـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بِســمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيـم

    Kisah yang kami tulis ini adalah sebuah kisah nyata yang telah dirasakan dan terjadi pada salah seorang MUZAKI yang telah mempercayakan Shodaqoh-nya kepada Lembaga Maal kami. Tanpa mengurangi rasa hormat dan demi menghindari riya’, kami tidak menyebutkan identitas beliau secara detail, dan mudah-mudahan pembelanjaan harta tersebut bermanfaat dan mendapatkan berkah dari ALLAH سبحانه وتعلى

    Sebagaimana artikel yang telah kami tulis yang terdahulu, Baitul Maal Saka Madani telah meluncurkan sebuah program Tabungan Akhirat yang kami sebut Tabung Infaq ( untuk informasi selengkapnya tentang Tabung Infaq, silahkan KLIK DISINI ). 

    Al kisah, Ibu ‘XY’ yang bermukim di daerah Kweni Panggungharjo Bantul Yogyakarta, adalah seorang pedagang es ‘cendhol’ di kampung tersebut, pada saat petugas kami silaturahmi untuk membuka Tabung Infaq di rumah MUZAKI yang bersangkutan, beliau menceritakan sebuah cerita diluar logika manusia tentang amal Shodaqoh yang telah dilakukannya. 

    Pada hari tersebut ALLAH سبحانه وتعلى memberikan 3 buah cobaan yang datang bersamaan kepadanya :

    • Suaminya yang tercinta diberi cobaan oleh ALLAH سبحانه وتعلى berupa sakit, sehingga beliau tidak dapat membantu sang isteri mempersiapkan barang dagangannya.
    • Ketika beliau membeli bahan baku untuk dagagannya, tanpa diduga dan diluar kebiasaan ternyata kualitas dari ‘Cendhol’ sebagai bahan baku utama dagangannya, mendapatkan kualitas ‘Cendhol’ yang jelek. Hal tersebut menyebabkan beliau bingung, karena barang tersebut sudah tidak mungkin untuk di retur. Dalam benak beliau, hari itu pasti dia akan merugi dan akan mendapatkan rejeki yang sedikit, karena mungkin dagangannya tidak laku. Kemudian tanpa berpikir panjang, ketika beliau melihat tabung Infaq di depannya, sedikit sisa uang yang dipakainya untuk belanja ‘cendhol’ tadi dimasukkan ke tabung tersebut.
    • Sambil menunggu dagangannya bersama anaknya yang masih kecil, ada seorang penjual bakso lewat, dan diluar kebiasaan anaknya pun minta dibelikan. Ketika suapan terakhir berupa bakso dimasukkan ke mulut anaknya, betapa kagetnya dia … ternyata bakso itu membuat anaknya tersedak dan muntah-muntah.

    Dari ketiga cobaan yang datang hampir bersamaan waktunya itu, ternyata diluar dugaan ‘Cendhol’ dagangannya habis tidak sampai jam 3 sore, padahal biasanya paling cepat dagangan tersebut habis pukul 5 sore. Dan betapa bersyukurnya beliau, ketika sampai di rumah mendapati suaminya dalam keadaan dalam keadaan sembuh.

    Dari sekelumit cerita di atas, mungkin diantara Anda yang membacanya akan bergumam : “ Ahh … biasa aja … mungkin cuman sebuah kebetulan yang terjadi secara bersamaan!!!!” atau : “ Nahhhh … itu gara-gara Infaq yang telah dilakukannya !!!!"

    Bukanlah Shodaqoh yang menyebabkan dagangan si Ibu ‘XY’ tadi laris… dan bukan pula karena Infaq, anak dan suaminya sembuh dari penyakit yang diderita. Akan tetapi semuanya karena ALLAH سبحانه وتعلى. Saudara-saudaraku, yakinlah ….. kebaikan sebesar zarrah pun …. Atau kejahatan sebesar zarrah pun pasti akan mendapatkan balasannya di sisi ALLAH سبحانه وتعلى. Dan tidak ada satu buah pun daun yang jatuh dari rantingya …. Tanpa sepengetahuan dan seijin-Nya.

    Subhanallah …… Ada sebuah hikmah dibalik cerita tersebut, seorang ibu pedagang ‘Cendhol’ ….. maaf….. mungkin tidak menentu pendapatan hariannya …… tetapi karena mungkin ikhlas membelanjakan sebagian hartanya, ternyata telah benar-benar dihargai dan dibalas langsung oleh ALLAH سبحانه وتعلى. Sebuah kejadian yang tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang.

    Mudah-mudahan Shodaqoh yang beliau belanjakan tersebut ikhlas dan dalam rangka menggapai ridho-Nya. Semoga Shodaqoh tersebut bermanfaat bagi orang lain yang mungkin membutuhkannya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

    وألسـلام عليكم ورحمة الله وبركات